29 Januari, 2013

PEMBELA HAM DI TANAH PAPUA PROTES DAN MENOLAK PERNYATAAN PADA BUKU BARU “THE WORLD UNTIL YESTERDAY, WHAT WE CAN LEARN FROM TRADITIONAL SOCIETIES,”


PEMBELA HAM DI TANAH PAPUA PROTES DAN MENOLAK PERNYATAAN PADA BUKU BARU THE WORLD UNTIL YESTERDAY, WHAT WE CAN LEARN FROM TRADITIONAL SOCIETIES,
OLEH JARED  DIAMOND
(Dunia Sampai Kemarin,  Apa yang kita bisa belajar dari masyarakat adat).


Press Realisse:

Matius Murib, Pembela HAM, Direktur Baptis Voice Papua
Rabu, 30 Januari 2013

Pembela HAM di tanah Papua sangat protes dan menolak pernyataan pada buku baru oleh Jared  Diamond tentang orang pribumi dengan judul bukunya; The World Until Yesterday, What we can learn from traditional societies,  (Dunia Sampai Kemarin,  Apa yang kita bisa belajar dari masyarakat adat).  
Buku ini menyebarkan prasangka rasis tentang orang Papua, dan penulis buku ini akan sampai di Inggris hari ini tangal 30 Januari 2013.   Dan pada tanggal 05 Februari 2013 dia akan berpidato di London-Inggris dan publik di Eropa dan dunia akan menikmati informasi yang sangat sepihak.
Penulis buku ini seharusnya berpandangan positif tentang orang pribumi;  oleh karena sih penulis sampaikan bahwa kita bisa belajar dari masyarakat adat.   Namun, ada sejumlah masalah besar dengan buku ini yang penulis sampaikan pesan yang berbahaya dan merendahkan; antara lain:


Terkesan bahwa seolah-olah orang pribumi di Papua masih mewujudkan hidup mereka pada hidup ribuan tahun yang lalu.  Ini tidak benar dan memperkuatkan ide yang rasis bahwa orang pribumi adalah terbelakang, hidup dalam masa lalu, atau bahkan zaman batu.

Terkesan bahwa perang suku dan kekerasan, yang difokuskan  terhadap orang dari suku Dani pada tahun1960-an.  Penulis merincikan perang suku Dani sebagai perang kronis.  Dia bilang bahwa Orang Dani berperang setiap bulan selama setiap tahun.  Kesan untuk sih pembaca adalah bahwa orang pribumi dari suku Dani ini adalah keras dan buas, menguatkan prasangka yang sering dipakai untuk merugikan orang pribumi.

Jared Diamond, penulis buku ini, juga berpendapat bahwa orang pribumi sudah mendapat manfaat dari penguasa Negara dalam kehidupan mereka karena penguasaan ini sudah menghentikan perang suku. Dia menulis: Orang Nugini menghargai manfaat dari perdamaian yang dijamin oleh penguasaan Negara, yang mereka tidak bisa mencapai sendiri. Dia juga menulis bahwa kebanyakan masyarakat skala-kecil menjadi terjebak dalam siklus kekerasan dan perang.  Pemerintah Negara memberikan pelayanan luar biasa dalam memutus siklus-siklus ini oleh kedatangan mereka sebagai pemonopolian kuasa.

Yang kami memprotes Jared Diamond adalah karena penulis buku ini  sama sekali tidak menyebutkan kebrutalan prajurit atau militer  Indonesia dalam aksi pembunuhan, pemerkosaan dan pengusiran orang Papua Barat.

Buku ini terkesan sangat tidak berimbang dan obyektif dengan realitas di tanah Papua sampai hari ini; dari penulisan seperti ini, kami menduga penulis adalah agent atau kaki-tangan penguasa untuk melemahkan posisi dan eksistensi kehidupan masyarakat pribumi  dan suku-suku asli di tanah Papua. 

Penulis buku dan penguasa harus berhenti dan stop memberikan stigmanisasi yang merendahkan martabat dan harkat masyarakat pribumi, seperti suku Dani dan 200-an lebih suku-suku asli di tanah Papua.

Penulis buku ini, Penguasa dan semua pihak harus tahu bahwa sejak tahun 1960-an hingga hari ini, 30 Januari 2013 yang dominan menggunakan cara-cara dan pendekatan kekerasan dan dengan cara sangat brutal adalah militer Indonesia, yang dikenal institusi yang bernama TNI dan Polri bukan masyarakat pribumi yang adalah orang asli Papua. 

Salam damai untuk semua dari tanah yang dikenal situs kekerasan dan wilayah konflik Papua Barat.



Kontak Person:

Matius Murib, Koordinator Pembela HAM dan
 Direktur Baptis Voice di tanah Papua

Jalan Pipa Air Uncen Atas, Abepura, Jayapura, Papua Barat
Mobile: 08124892975, email: matiusmurib@yahoo.com, BB: 2A97B47C

Tidak ada komentar:

Posting Komentar